fbpx

Kemparekraf Akan Bantu Setifikasi CHSE untuk Usaha Wisata Selam

https://www.beritasatu.com/heru-andriyanto/gaya-hidup/686379/kemparekraf-akan-terbitkan-setifikasi-chse-untuk-usaha-wisata-selam - 12 Oktober 2020
Wisata selam di Bunaken, Sulawesi Utara. (Foto: Kemparekraf)

Denpasar, Beritasatu.com – Para pengusaha wisata selam di Indonesia didorong untuk menerapkan standar keselamatan dan kesehatan sesuai panduan yang sudah disesuaikan dengan situasi pandemi Covid-19 dan diterbitkan belum lama ini.

Pelaku usaha yang menerapkan panduan ini akan mendapat setifikasi dari lembaga auditor yang dikoordinasikan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemparekraf).

Panduan tersebut disusun oleh Kemparekraf lewat kolaborasi bersama otoritas kesehatan, asosiasi selam lokal dan internasional, dan instruktur selam profesional sesuai panduan protokol kesehatan berbasis cleanlinesshealthysafety, dan environmental sustainability (CHSE).

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan Kemparekraf, Rizki Handayani, mengimbau agar pelaku usaha wisata segera mempelajari dan menerapkan protokol kesehatan tersebut untuk mendapatkan sertifikasi CHSE Wisata Selam.

“Kemparekraf berinisiatif menyusun panduan protokol kesehatan berbasis CHSE di masing-masing bidang pariwisata, termasuk usaha wisata selam. Hal ini dilakukan mengingat protokol kesehatan berbasis CHSE memiliki peranan penting untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata, terutama di bidang wisata minat khusus,” kata Rizki dalam acara sosialisasi panduan protokol kesehatan CHSE yang digelar di Prime Plaza Hotel Sanur, Bali, Senin (12/10/2020).

Dengan mengadopsi dan mengimplementasikan panduan tersebut, diharapkan saat pembukaan kembali wisata selam nanti para pelaku usaha wisata selam di Indonesia sudah kembali mendapat kepercayaan dari wisatawan domestik dan internasonal, kata Rizki.

“Dengan meningkatnya kepercayaan wisatawan, maka sektor pariwisata bidang wisata minat khusus bisa bangkit kembali,” ujar Rizki.

Panduan protokol kesehatan ini telah disetujui oleh asosiasi selam dunia Divers Alert Network (DAN) yang memiliki 2 juta anggota di seluruh dunia.

Lebih lanjut Rizki mengatakan sertifikasi ini akan diserahkan kepada lembaga-lembaga independen yang berkompeten, misalnya Sucofindo.

“Jadi auditornya nanti benar-benar independen dan diakui. Untuk itu kami perlu mendata dulu list para pengusaha wisata selam yang ada agar bisa diaudit,” kata Rizki.

Event di Bali ini adalah yang ketiga kalinya panduan protokol kesehatan wisata selam disosialisasikan, menyusul event serupa di Manado, Sulawesi Utara, dan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, awal bulan ini.

Dalam event tersebut, digelar juga diving market updates sebagai sarana bertukar informasi bagi pelaku wisata selam dari sejumlah negara yang sudah membuka kembali destinasi selam terkait kondisi terkini dan bagaimana mereka menerapkan protokol kesehatan. Para pengusaha selam manca neara itu ikut berpartisipasi melalui konferensi video.

Pemerintah mengharapkan event ini dapat berguna bagi para pengusaha wisata selam lokal untuk lebih menajamkan strategi mereka ketika industri pariwisata global masih terpuruk akibat pandemi, dengan menerima masukan dari rekan-rekan mereka di negara lain.

Dengan demikian, mereka sudah sangat siap mnerima kembali tamu mancanegara ketika wisata selam di Indonesia kembali dibuka.

Dalam event di Sanur tersebut, turut hadir sebagai pembicara antara lain Ketua Gabungan Usaha Wisata Bahari dan Tirta (GAHAWISRI) Provinsi Bali, Ida Bagus Agung Parta Adnyana; Tim Ahli Gubernur Bali Bidang Pariwisata, Cipto Aji Gunawan selaku; dan Daniel Abimanyu Carnadie serta Bayu Wardoyo selaku anggota tim Penyusun CHSE Wisata Selam Kemparekraf.

Share on facebook
Share on twitter

Recent News